Subhanallah, Ibu Ardati Pelopor Inspiratif Gantungkan Makanan Dipohon "Kalau Ada Tetangga yang Kelaparan, Saya kan Ikut Dosa"
Ardiati (53) warga Rajek Lor, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, melakukan hal inspiratif untuk membagikan bahan pangan gratis kepada tetangga.
Alasannya cukup simpel, namun cukup membuat banyak orang tersadar akan pentingnya berbagi di masa wabah Covid-19. Lulusan S1 Fakutas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini terketuk hatinya karena mendengar banyak orang yang tak lagi bisa bekerja karena dirumahkan.
"Dengar ada yang sudah dirumahkan dari pekerjaan dan kita tidak tahu apakah mereka masih memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kalau ada tetangga yang sampai kelaparan kan, Saya kan ikut dosa," ungkapnya saat ditemui Kompas.com, Jumat (1/05/2020).
Cara Ardiati berbagi makanan pun cukup unik, yaitu dengan mencantolkan bahan pangan di kayu yang terpasang di tepi jalan.
Sebelumnya, bahan makanan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam bungkus plastik. Jumlah dan isinya tak selalu sama, ada telur, minyak goreng, beras, hingga sayur mayur.
Saat itu Ardiati memasang lima bungkus plastik bahan pangan dan beberapa ikat sayuran.
Dia memasang kertas bertuliskan "Gratis, sumonggo bagi yang membutuhkan" (Gratis silakan bagi yang membutuhkan).
Pada kertas lain tertulis 'Dengan senang hati dipersilahkan juga bagi yang mau ikut menambah/memberi di sini'.
Awalnya ragu salah sasaran Wanita 53 tahun itu mengaku terinspirasi dari salah satu unggahan di media sosial.
Dia lalu berdiskusi dengan anaknya tentang apa yang harus dibeli hingga bagaimana jika diambil orang yang tidak tepat.
"Kita punya uang berapa? terus kalau jadi, nanti orang-orang njagake gimana? artinya besok ke sini lagi karena ada itu (sembako).
Diskusi lagi, nanti kalau yang mengambil yang tidak butuh gimana? jangan-jangan salah sasaran," ungkapnya. Akhirnya ibu rumah tangga itu mulai membelanjakan Rp 200 ribu uang pribadinya untuk membeli sembako.
Hari pertama praktik, yakni pada Selasa (7/4/2020), ada empat bungkus plastik makanan yang digantung di depan rumah.
"Saya belanja awal itu Rp 200 ribu, waktu itu, mie, gula jawa, ada telur, ada minyak goreng. Hari pertama itu empat plastik (yang digantungkan di depan rumah)," urainya.
Dia pun tak lagi memikirkan siapa yang akan mengambil makanan itu. Sebab siapa pun yang mengambil pasti sedang membutuhkan.
"Yang kepikiran kalau orang mengambil itu, satu pasti butuh, secara fisik butuh makanan, yang kedua secara psikologis dia butuh.
Misalnya di rumah punya beras, tapi berpikir saya belum aman, lalu mengambil, ya tidak apa-apa," katanya.
Ardiati yang awalnya terinspirasi dari orang lain, kini justru menginspirasi banyak orang di sekitarnya, bahkan orang yang tidak dikenalnya.
Saat ini ada 16 orang yang turut menyumbang makanan, meskipun tidak setiap hari. "Ada 16 orang yang support, tidak rutin dan apa yang teman-teman punya.
Yang punya mi dua bungkus ya mi dua bungkus, yang punya telur ya telur," ungkapnya. Mereka antara lain warga di dusunnya dan menular hingga kepada teman-teman kuliahnya dahulu.
Misalnya Dwi yang tinggal di Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.
Ia turut menggantungkan empat plastik berisi beras, mi dan minyak goreng di depan rumah Ardiati. "Ini saya membawa beras hasil panen sendiri.
Ya, Saya membantu sesama dengan kemampuan saya sendiri, kebetulan habis panen," ucap Dwi Ari Ningsih.
Dia terpanggil melakukan hal serupa setelah melihat status WhatsApp Ardiati. "Di situasi pandemi saat ini kan banyak orang yang mungkin dirumahkan, penghasilanya berkurang, kan kasihan.
Ya semoga ini bisa membantu," jelasnya.
