Kisah Sedih Nenek Tuna Wicara, Berpenghasilan Hanya 5 Ribu Per Hari Dari Mencari Barang Bekas
Duh, Miris banget!
Banyak orang ingin melewati momen usia senjanya dengan kehidupan tentram dan juga makmur. Namun berbeda dengan seorang nenek tuna wicara yang terpaksa harus menjalani keterpurukan.
Mak Emet, adalah seorang nenek tuna netra yang memiliki sebuah kisah pilu. Ia harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup dari barang bekas.
Terlebih saat kondisi pandemi yang kian membuat hidupnya semakin terpuruk. Sebab, penghasilan yang didapatkan jauh dari kata cukup. Berikut ulasan kisah haru dari Mak Emet.
Keliling Kampung Cari Barang Bekas Tiap Hari
Kisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang BekasKisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang Bekas © Instagram/@rumahyatim
Mak Emet merupakan salah seorang wanita tuna wicara yang usianya sudah tak lagi muda. Di usia senjanya, ia harus terpaksa berjuang untuk menyambung hidup sendirian.
Meski kondisinya semakin melemah lantaran termakan usia, Mak Emet harus berjuang dengan menggantungkan hidupnya pada barang bekas. Begitu miris, ia bahkan harus mengelilingi kampung untuk mencari barang bekas tersebut.
Tempuh Jarak 5 KM dengan Jalan Kaki
Kisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang BekasKisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang Bekas © Instagram/@rumahyatim
Seperti unggahan akun Instagram @rumahyatim, Mak Emet setiap harinya harus berangkat dari jam 7 pagi untuk mencari barang bekas. Ia pun rela berjalan kaki sejauh 5 Kilometer dari tempat tinggalnya guna menempuh kampung tempat ia mencari barang-barang bekas.
Barang bekas yang sudah didapatkan setiap harinya oleh Mak Emet, pada nantinya akan dijual kembali ke pengepul.
Upah Jauh Dari Kata Cukup
Kisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang BekasKisah Nenek Tuna Wicara yang Rela Jadi Pengepul Barang Bekas © Instagram/@rumahyatim
Hanya bisa menggantungkan hidupnya dari barang-barang bekas, tentu saja penghasilan Mak Emet begitu jauh dari kata cukup. Nenek tuna wicara itu setiap harinya hanya mendapatkan upah sebanyak Rp3000 hingga Rp5000 saja.
Benar-benar memilukan, upah yang ia dapatkan setiap harinya langsung ludes untuk membeli makanan. Namun keterpurukan serta keterbatasan yang dimiliki oleh Mak Emet tak membuat dirinya menyerah melawan roda kehidupan yang kian terus berputar.
Apalagi, semenjak adanya pandemi virus corona atau covid-19 juga begitu sangat berpengaruh bagi kehidupan Mak Emet. Di tengah pandemi yang menerjang, membuat kehidupannya semakin sulit.
Bukan hanya itu, kehidupan Mak Emet juga sangat dipenuhi dengan keterbatasan akibat pandemi saat ini.
