Kisah Ibu yang Ingin Anaknya Jalani Suntik Mati, Ternyata Ada Alasan Mengharukan Dibaliknya
Bagi seorang ibu, anaknya adalah segalanya.
Tak heran, banyak ibu yang rela melakukan apapun demi untuk anak mereka.
Namun bagaimana jika ada seorang ibu yang ingin anaknya menjalani suntik mati?
Ya, suntik mati. Yang artinya ia ingin anaknya meninggal.
Inilah yang terjadi di Australia.
Di mana seorang ibu mengajukan permohonan yang memilukan kepada pemerintah Australia.
Ia meminta agar putranya dapat melakukan proses eutanasia di Australia dan tak perlu jauh-jauh pergi ke Swiss.
Eutanasia sendiri merupakan tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup dengan cara yang relatif cepat dan tanpa rasa sakit, untuk alasan kemanusiaan.
Mangutip Newscom.au pada Senin (25/3/2019), sang ibu yang bernama Barbara Thornton (54), mendesak para politisi Australia untuk melegalkan eutanasia di negaranya.
Barbara ingin agar putranya, Troy Thornton, menjalani suntik mati dengan mendapatkan eutanasia di Australia, dekat dengan sanak keluarga.
Troy sendiri kini sudah meninggal dunia setelah mendapat suntikan mematikan di klinik euthanasia di Swiss, beberapa waktu lalu.
Diketahui Troy memiliki masalah pada sistem atrofi dan gangguan neurodegeneratif progresif yang membuatnya perlahan-lahan menjadi lumpuh.
Troy bahkan pernah mengatakan bahwa ia akan menjadi 'sayuran' karena penyakitnya.
"Pertama kamu tidak bisa berenang, lalu kamu tidak bisa berlari, berjalan, menendang kaki dengan anak-anakmu, kamu tidak bisa berselancar, mengemudi."
"Lalu kamu akhirnya menjadi sayuran," kata Troy saat masih hidup.
Sampai saat ini, tidak ada pengobatan yang tersedia untuk masalah yang diderita Troy dan tidak ada harapan bagi pasien seperti Troy untuk pulih.
Di Australia sendiri, negara bagian Victoria menjadi lokasi pertama yang melegalkan suntik mati berupa eutanasia,
Meski begitu, Troy dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjalani proses tersebut.
Syarat utama untuk proses kematian sukarela di Victoria adalah bahwa penyakit pasien harus pada tahap terminal.
Sementara pada kasus Troy, keluarganya tidak dapat menemukan dua dokter yang bersedia mengatakan dengan pasti bahwa Troy akan meninggal dalam waktu 12 bulan ke depan.
Ini juga menjadi alasan mengapa Troy dan keluarga harus terbang ke Swiss, jauh dari teman-teman dan keluarganya, untuk mengakhiri penderitaan yang Troy derita lewat suntik mati.
"Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan tentang ini."
"Saya harap ini menjadi warisannya."
"Saya akan bangga akan hal itu dan mudah-mudahan suatu hari nanti akan berlalu dan orang-orang tidak akan melakukan perjalanan jauh," kata ibunda Troy kepada media The Age.
Berlin Silalahi (46) mengajukan permohonan euthanasia atau tindakan mengakhiri hidup seseorang yang sakit parah dengan kematian yang dinilai tenang, biasanya dengan suntikan, ke Pengadilan Negeri Banda Aceh.
Salah seorang korban penggusuran dari barak pengungsi tsunami di Gampong Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar itu mengaku sudah tidak tahan lagi dengan penyakit yang dideritanya.
"Kalau sebelumnya saya masih bisa duduk dalam waktu yang agak lama, tapi kalau sekarang, sebentar saja duduk badan saya langsung terasa sakit semua, dan saya harus berbaring lagi, saya sudah tidak tahan lagi," ucap dia kepada Kompas.com, Kamis (4/5/2017) di Banda Aceh.
Sebelum tsunami, Berlin bekerja sebagai mekanik mesin di sebuah bengkel sepeda motor. Dia juga sempat bekerja sebagai petugas ticketing pada angkutan minibus L-300 Trayek Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP).
Pasca musibah gempa dan tsunami, Berlin tinggal di barak hunian sementara, karena rumah yang mereka sewa hancur dilanda tsunami.
Baca: Tes Kepribadian, Dari Foto Profil di Medsos Bisa Cerminkan Seseorang, Coba Sekarang Apakah Sesuai!
Pria kelahiran Batak-Jawa ini mulai sakit-sakitan sejak tinggal di barak. Hingga akhirnya pada tahun 2014 lalu, ia mengalami kelumpuhan setelah menjalani pengobatan medis dan alternatif di Kota Lhokseumawe.
Sejak kembali ke Banda Aceh, sebut Berlin, ia sudah bolak balik menjalani perawatan ke rumah sakit. Tapi penyakit yang dideritanya belum kunjung sembuh.
Kini kondisinya semakin parah. Berlin yang menikah dengan Ratnawati tahun 2002 itu dikaruniai dua orang putri, Tasya Maizura (11) dan Fitria Balqis (5).
Saat ini Tasya akhirnya diserahkan kepada kakak sang istri Ratnawati untuk dirawat dan bisa melanjutkan sekolah.
"Saya tak tahu harus bagaimana, keluarga kakak saya itu pun bukan keluarga mampu, tapi Cuma mereka yang bisa kami minta untuk merawat anak saya, kasian anak saya tahun ini dia harus menamatkan sekolah dasarnya, agar bisa melanjutkan ke sekolah SMP," ucap Berlin dengan bibir bergetar menahan sedih.
"Anak yang kecil masih ikut bersama kami, tapi saya cemas juga bagaimana kehidupannya nanti," tambah dia.
Sementara sang istri, Ratnawati, mengatakan, puncak keputusasaan sang suami terjadi saat barak yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka dibongkar oleh Satpol PP Kabupaten Aceh Besar.
"Sebelumnya pihak Bupati sudah memberikan surat peringatan bahwa barak akan dibongkar, tapi setelah itu ada surat edaran dari Plt Gubernur Soedarmo yang mengakan untuk sementara barak jangan dibongkar dulu, dan kemudian, gubernur Zaini Abdullah pun sepekan sebelum pembongkaran barak juga sudah memerintahkan bahwa barak jangan dibongkar," ucap dia.
"Jadi ketika satpol PP datang, kami belum siap, dan merasa kaget sekali, semua barang kami hancur berantakan," tambah Ratnawati.
Pasca "pengusiran" dari barak, Berlin pun semakin tertekan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajukan permohonan euthanasia untuk mengakhiri penderitaan batinnya.
Selain Berlin, terdapat 17 kepala keluarga lainnya yang menjadi korban penggusuran tersebut. Berlin bersama 17 kepala keluarga tersebut kini ditampung di Kantor YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh).
Sekretaris YARA Fakhrurrazi, mengatakan, pihaknya hanya membantu memfasilitasi tempat tinggal sementara.
"Mereka tinggal berdesak-desakan di kantor, karena hanya ada ruangan kecil yang ada di sana, kami mencoba melakukan pertemuan dengan gubernur, agar bisa memberi solusi bagi mereka, karena mereka adalah tanggunjawab Negara," ujar Fakhrurrazi. (Soesanti Harini Hartono)
Sumber : Tribunjambi(dot)com
